Tuesday, March 7, 2017

Kehilangan minat pada agama? Ah, masak sih?


Halo, apa kabar kalian, teman-teman? Seseorang beberapa waktu yang lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang itu-itu juga untuk saya jawab.

Tanya: Kenapa anda kini tampak kehilangan minat pada agama? Anda dikesankan orang sudah muak pada agama, betulkah?

Jawab: Loh, siapa yang bilang saya kehilangan selera, atau bahkan muak, pada agama-agama? Orang yang menyatakan begitu, pasti tidak mengerti isi pikiran dan sikap saya.

Tapi saya dapat memahami jika anda bertanya demikian, ya mungkin karena anda melihat banyak fakta buruk terkait agama. Makin banyak orang yang kini tidak menyukai agama-agama lagi karena citra buruk dan durjana yang telah dan sedang diperlihatkan para agamawan radikalis dan esktrimis sedunia. Mereka beragama, tapi malah menjadi keras, kejam, durjana dan kehilangan kasih sayang.

Ini memang sikon yang sangat memukul jiwa dan menimbulkan rasa muak dalam diri orang yang beragama dengan baik-baik. Muak terhadap agama-agama pada umumnya, dan khususnya terhadap agama sendiri.

Dalam sikon lelautan keagamaan yang berbadai itu, banyak agamawan memilih jadi ateis, terang-terangan, atau sebagai kripto-ateis, yaitu para ateis gelap-gelapan, tidak berani dengan jujur dan terbuka menyatakan diri ateis, karena sejumlah pertimbangan dan kegamangan. Atau bahkan mereka menyebut diri sendiri sebagai agamawan ateis, suatu frasa oxymoronik yang bikin kepala dan kelapa muda keleyengan.


Nah, saya sekarang langsung saja harus kembali menegaskan bahwa setiap agama itu kaya raya dengan metafora dalam berbagai kemasan dan konten.

Kata metafora dibentuk dari dua kata Gerika meta, artinya melampaui sekaligus berada bersama atau sesudah hal lain atau di balik sesuatu, dan ferein, artinya menyeberang atau membawa atau memindahkan ke seberang atau dari suatu tempat ke suatu tempat lain.

Metafora dapat berupa lukisan, kisah, mitos, gambaran-gambaran, images, simbol, tanda, karya-karya senibudaya artistik seperti patung atau bangunan, ritual, imajinasi, fiksi, kiasan, ibarat, perumpamaan, pengakuan, testimoni, dongeng, komik, karikatur, puisi, film, permainan, dll.

Lewat metafora, orang zaman kuno yang menyusun kitab-kitab suci dibawa masuk atau diseberangkan ke kawasan-kawasan lain yang dipercaya ada di balik atau melampaui kawasan kehidupan real mereka sehari-hari.

Mereka memerlukan kawasan-kawasan metaforis itu dan bantuan-bantuan yang datang dari sana untuk bisa kuat dan tabah serta tegar dalam menjalani kehidupan yang dirasakan berat. Atau untuk tetap bersemangat tinggi dalam bertempur melawan musuh atau dalam menghadapi berbagai bencana alam yang dahsyat. Atau untuk mendapatkan jawaban, bimbingan dan penghiburan ketika mereka sedang mengalami banyak pergumulan dan persoalan hayati eksistensial.

Orang yang menyusun agama-agama di zaman kuno membayangkan kawasan-kawasan lain ini sebagai dunia transenden, kawasan adikodrati, dunia supernatural, kahyangan, puncak Gunung Olympus dan banyak gunung lain, Gunung Sinai misalnya, atau sebagai sorga, dunia para malaikat dan bidadari, takhta para dewa, langit lapis teratas, dunia di atas pelangi, dunia bawah, hades, atau syeol, kawasan neraka, dunia gaib, rumah tinggal roh-roh atau makhluk-makhluk halus seperti setan, jin, dedemit, genderuwo, atau bahkan dunia organisme alien, dst.

Tentu saja orang modern yang sudah tahu kosmologi, astrofisika dan astronomi modern tidak akan memandang kawasan-kawasan metaforis supernatural yang diimajinasikan insan-insan purba sebagai realitas empiris objektif faktual yang bisa dicerap oleh lima indra insani (inilah makna kata empiris) atau dengan bantuan instrumen teknologis modern seperti kamera, teleskop, mikroskop, stetoskop, spektroskop, atau bahkan mesin sains terbesar dunia Large Hadron Collider, dll. Kita memandang kawasan-kawasan itu sebagai kawasan imajiner, dunia impian, dunia angan-angan, dunia fiksi, dunia fantasi, alam mitologis.

Meskipun demikian, tidak seperti sikap dangkal orang ateis yang menolak, menyepelekan bahkan membenci semua metafora keagamaan, saya melihat ada banyak keindahan dan manfaat filosofis, moral, artistik, eksistensial dan edukatif dari metafora-metafora keagamaan yang disusun dengan imajinatif oleh insan-insan yang hidup di era pramodern dan prailmiah.

Kitalah yang sok tahu, bodoh dan bebal jika memandang kitab-kitab suci kuno yang berisi sangat banyak metafora sebagai kitab-kitab iptek modern, dan memahami metafora-metafora yang dibangun insan-insan purba sebagai fakta-fakta empiris faktual. Ini posisi kalangan literalis skripturalis absolut. Pola pikir mereka mustahil berubah karena mereka telah menjadi korban-korban indoktrinasi dan cuci otak yang telah berlangsung lama.

Pada sisi lain, orang ateis juga menjadi sangat bebal dan salah kaprah kebangetan ketika mereka menegaskan bahwa mereka baru akan percaya teks-teks kitab suci apapun jika apa yang dinyatakan teks-teks itu ada bukti empirisnya dan sejalan dengan temuan-temuan iptek modern. Bebal dan keterlaluan salah kaprah karena mereka maunya semua kitab suci itu kitab iptek, buku IPA dan buku disiplin-disiplin lain ilmu pengetahuan. Sampai jagat raya ini menciut dan mengerucut kembali pun, bermilyar-milyar tahun dari sekarang, buku suci agama apapun tidak akan pernah jadi buku iptek.

Orang ateis tidak suka kitab suci karena isi kitab suci bukan kajian-kajian iptek, tapi 85 persen metafora. Tuding mereka juga, metafora-metafora kitab-kitab suci yang sebetulnya ungkapan-ungkapan figuratif hingga saat ini selalu dipahami dan diikuti harfiah (maksudnya: apa adanya sebagaimana tertulis) oleh orang yang beragama. Akibatnya, kata mereka lagi, watak, sikap, kelakuan dan perbuatan orang yang beragama menjadi jahat, keji, keras, tak masuk akal sehat, apalagi akal ilmiah. Terhadap sikap dan pendapat orang ateis ini, saya perlu beri beberapa catatan.

Banyak orang ateis yang tidak menyadari bahwa sementara pada satu sisi mereka membuang metafora-metafora purba, pada sisi lain mereka sangat menikmati metafora-metafora modern seperti metafora-metafora Spiderman, Batman, Hulk, Transformers, Doraemon, Dragon Ball, Lion King, The Beauty and the Beast, Harry Potter, dll.

Kita sebaiknya jujur saja mengakui bahwa setiap manusia, sejak kanak-kanak hingga lansia, untuk hidup sehat, raga dan mental, membutuhkan bukan hanya roti atau nasi dan lauk-pauk dan aqua, tetapi juga metafora-metafora, fiksi-fiksi, imajinasi, fantasi, impian-impian, angan-angan, dongeng-dongeng.

Sampai sekarang, sejumlah kisah fiktif dalam Buddhisme dan Kekristenan yang sudah saya ketahui dan dengar di usia remaja, dan juga dongeng-dongeng kanak-kanak sedunia (karya pujangga Denmark, Hans Christian Andersen, misalnya), tetap mampu menyentuh dan menggerakkan hati dan pikiran saya dengan positif meski saya tahu pasti kisah-kisah itu semuanya fiksi. Menarik dan menghayati nilai-nilai kehidupan yang positif dari berbagai metafora tentu saja tidak sama dengan menerima metafora-metafora itu sebagai fakta-fakta. Sikap yang pertama menunjukkan kearifan dan keluasan cakrawala kehidupan; sikap yang kedua memamerkan ketidaktahuan dan kedunguan.

Ada metafora atau fiksi yang membangun, dan tentu saja juga banyak yang tidak mendewasakan dan yang merusak. Anda tidak perlu diberitahu lagi bahwa anda harus cerdas dan arif memilih metafora-metafora yang akan bermanfaat positif dan membangun kehidupan anda dan orang lain di sekitar anda.

Metafora yang dikenal dan disukai betul oleh orang Kristen yang menggambarkan Yesus berjalan di atas air, dengan menginjak-injak air yang sedang bergelombang besar bak air bah, adalah sebuah metafora yang sangat positif bagi orang-orang Kristen yang sedang menghadapi gelombang-gelombang persoalan besar dalam kehidupan mereka di dunia real.

Sudah pasti, kapan pun di muka Bumi ini tidak ada satu orang pun dengan alamiah dapat berjalan di atas air yang dalam, kecuali dalam film-film atau video-video iklan personal branding seorang selebritas, atau jika anda mengendarai sebuah flyboard canggih.

Bagaimanapun juga, metafora Yesus berjalan di atas air, ketika divisualisasi dalam pikiran dan batin seorang Kristen yang sedang sangat menderita lalu membenamkan diri dalam doa-doa, akan memberi dampak mental dan pengaruh ragawi yang positif, menyembuhkan, menguatkan, dan membangun kembali kepercayaan dirinya yang dipusatkan pada sosok Yesus.

Sejumlah teman saya yang ateis pernah menyatakan keras-keras kepada saya bahwa mereka tidak butuh metafora Yesus berjalan di atas air sekalipun mereka mengaku sedang mengalami banyak persoalan berat yang menyiksa. Kata mereka, sebagai ateis mereka punya kepercayaan diri yang kuat sehingga tidak perlu mencari bantuan dari Tuhan apapun yang ada di langit, dalam sikon apapun.

Jawab saya kepada teman-teman ateis ini, Baiklah kalau memang anda sekalian sudah dapat menjadi Tuhan yang very strong and powerful untuk diri anda sendiri. Saya kagum pada anda semua yang tangguh dan tidak rapuh. Tetapi hormati juga 4 milyar orang dewasa yang kini masih percaya dan berdoa kepada Tuhan mereka masing-masing.

Bagi saya, lepas dari ihwal apakah Tuhan itu ada atau tidak ada, mereka yang berdoa itu tidak otomatis harus kita nilai lemah. Justru karena mereka bisa percaya dan berdoa, dengan hasil mereka menjadi tabah dan kuat, dan kehidupan mereka tumbuh menjadi agung dan mulia karena kekuatan iman mereka, maka mereka juga sangat patut dikagumi. Metafora teologis yang akbar punya kekuatan untuk menjadikan orang besar dan mulia. Siapakah di dunia ini yang tidak respek dan kagum pada Martin Luther King, Jr., Uskup Desmond Tutu, Mahatma Gandhi, aktivis Nelson Mandela yang kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan, Dalai Lama XIV, dan masih banyak lagi?

Lalu, adakah metafora keagamaan yang buruk dan harus dijauhi? Ada, sangat banyak. Ambil satu atau dua contoh saja.

Metafora Tuhan memimpin berbagai perang suci, dan memerintahkan pemuja Tuhan ini untuk membantai habis suku-suku bangsa lain, dan menjarah mereka, adalah metafora yang buruk dan keji. Metafora Tuhan melenyapkan nyaris 100 persen umat manusia lewat air bah yang menerjang dan menutupi muka Bumi selama 40 hari 40 malam, juga sebuah metafora yang durjana. Tinggalkan metafora-metafora semacam ini. Jangan biarkan metafora-metafora yang keras dan menyampaikan pesan-pesan yang durjana membentuk watak, pikiran, kehendak, perasaan, perangai, kelakuan dan tindakan anda.

Metafora Tuhan memerintahkan seorang ayah untuk menyembelih putera sulungnya sebagai korban yang harum buat Tuhan ini, dilihat dari perspektif masa kini, jelas adalah sebuah metafora yang melawan nurani, akal sehat dan hukum positif yang melindungi setiap anak dari KDRT.

Sayangnya, ya sangat banyak orang yang beragama yang malah memilih dan mengaktualisasikan dengan bulat-bulat, harfiah, metafora-metafora keagamaan yang merusak dunia, kehidupan dan peradaban manusia. Mereka beragama dengan bodoh, tidak cerdas dan tidak arif. Mungkin karena nurani mereka sudah mati, dan ada kerusakan neural pada bagian-bagian tertentu otak mereka yang terjadi bisa karena indoktrinasi dan cuci otak yang sudah berlangsung lama dan intensif atas diri mereka.

Sejujurnya, pada sisi lain, saya mau menyatakan bahwa saya mengalami fakta bahwa masuk ke dunia metafora itu, tentu dengan selalu mempertahankan sikap kritis dan cerdas, sangat menawan. Mengapa? Karena dunia metafora kaya dengan simbol, ibarat, kisah, mitos, pesan moral, perenungan spiritual, tafakur eksistensial, pergulatan etis, teka-teki, paradoks, keindahan senibudaya kuno, meditasi, introspeksi, kearifan, dan pertanyaan-pertanyaan besar (big questions) tentang asal-usul, maksud dan tujuan kehidupan manusia dan cara menjalani kehidupan.

Dengan begitu, lewat agama, kita akan MEMAHAMI bagaimana orang zaman kuno bergumul tentang kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, kebahagiaan dan kesedihan, kejujuran dan kebohongan, harapan dan rasa putus asa, duka dan suka, sakit dan sehat, cuka dan gula, madu dan racun, garam dan kecap, nasib sial dan hoki, dst. Jadi, jika orang MEMAHAMI apa itu agama dan kenapa agama diinvensi manusia, dan untuk apa teologi-teologi dan simbol-simbol metaforis dibangun, agama tidak akan membosankan.

Anekaragam pergumulan, pertanyaan, pencarian, penemuan, atau kegagalan, eksistensial ini diungkap lewat anekaragam metafora. Ada yang gamblang dan mudah ditangkap. Ada juga yang menjelimet dan sulit dicerna ketika dipandang sekilas. Tapi biasakanlah untuk tidak memandang apapun dengan sekilas.

Cari waktu dan tempat yang tepat untuk bertafakur dalam-dalam tentang segala pertanyaan besar kehidupan dalam jagat raya. Baik sekali jika ini bisa dilakukan lewat meditasi pasif dengan duduk bersila, ataupun lewat meditasi aktif dengan membaca buku-buku hebat dan merenungkan isi semuanya dalam-dalam dan seimbang, atau dengan mengunjungi kawasan-kawasan yang menyajikan kita banyak pemandangan baru yang memacu kita untuk terus-menerus merenung.

Dari pemahaman yang kita sudah bisa peroleh lewat pendekatan-pendekatan yang sudah digambarkan ringkas di atas, kita jadi bisa lebih cerdas, tidak dungu, lebih arif dan telaten dan lebih bajik dalam menjalani kehidupan kita SEKARANG di TEMPAT YANG BERBEDA dari orang zaman kuno di dunia yang lain.

Kalau kita menemukan hal penting yang sudah saya tulis dalam paragraf-paragraf di atas, kita tidak akan menjadi radikal fundamentalis dalam beragama. Juga tidak dibuat bosan atau muak pada agama-agama.

Pada sisi lain, tentu saja setiap hari di banyak tempat, jujur saja, kita sering mendengar ucapan-ucapan kebencian dan rasis atau SARAis, pendapat-pendapat yang dangkal, anti-sains, fitnah, dan melihat tindakan-tindakan yang menjijikkan dan memuakkan, dari orang-orang yang mengaku paling suci dan paling sempurna dalam beragama.

Fakta ini harus kita akui: Agama itu dapat bagus sekali untuk membentuk keagungan budi insan-insan yang eling. Tetapi agama, patut disesalkan, juga bisa menjadi tempat berlindung dan berkamuflase orang-orang yang munafik, yang tamak harta, kedudukan dan kekuasaan, dan hobi berpestapora. Yaitu mereka yang memakai kehidupan mereka hanya untuk menikmati dan menyerakahi Wein, Weib, Gesang, Geld und Macht.

Nah, kembali ke topik kita. Saya dengan santai kerap menengok kitab-kitab kuno yang disucikan dan masuk ke kehidupan dan cara berpikir orang zaman kuno di dunia yang berbeda. Tetapi UNTUK KEHIDUPAN SAYA SEKARANG DI TEMPAT SAYA, ya jelas SAYA SENDIRILAH YANG HARUS MENENTUKAN setelah saya memahami sikap dan pendapat dan cara hidup orang zaman dulu di kawasan dunia yang tidak sama.

Kita TIDAK MUNGKIN memindahkan dunia mereka bulat-bulat ke dunia kita. Kehidupan kita sekarang juga tidak mungkin menjadi fotokopi sempurna kehidupan mereka. Isi pikiran mereka juga tidak mungkin menjajah isi pikiran kita. Pengetahuan mereka tentang dunia dan kehidupan sudah ketinggalan sangat jauh dari pengetahuan modern kita. Teknologi modern kita, sebaliknya, tidak akan bisa mereka pahami seandainya mereka bisa menyaksikannya sekarang.

Tidak mungkin seorang manusia pria purba yang membawa sebuah gada batu besar dengan berpakaian jerami sambil menyantap daging bakar paha rusa gemuk dan besar yang masih berasap, ditemukan sedang naik turun dengan lift atau oskilator di mal-mal besar dan modern di Jakarta atau di Surabaya atau di New York atau di Abu Dhabi UEA abad ke-21 sekarang.

Kalau dulu moyang kita mengimajinasikan orang-orang suci menunggang kuda-kuda terbang atau mengemudikan kereta-kereta kencana yang ditarik kuda-kuda berapi untuk meninggalkan Bumi lalu masuk ke alam atas, dunia para dewa, tidak demikian lagi halnya dalam dunia kita sekarang.

Para astronot modern memakai wahana ulang-alik bermesin jet atau bermesin lain yang lebih maju untuk tiba di Bulan di tahun 1960-an dan selanjutnya, atau kini untuk tiba di International Space Station di angkasa luar, dan untuk kembali dari ISS ke Bumi. Dengan berbagai wantariksa yang berkecepatan makin tinggi karena teknologi penerbangan angkasa luar yang makin maju, NASA dan/atau ESA telah mengirim dan mendaratkan rover-rover, dan tak lama lagi astronot-astronot, di planet Mars, dalam rangka mengkaji planet ini dengan mendalam supaya nanti, sebentar lagi, dapat didiami manusia sebagai rumah kedua.

Ada bukan saja kesenjangan eksistensial yang sangat lebar, tapi juga kesenjangan sejarah, kesenjangan dunia pemikiran dan sosiobudaya, gaya hidup, dan iptek, yang sangat besar, antara kita dan insan-insan kuno yang membangun agama-agama skriptural dan nonskriptural.

Tapi kalau kita bisa menjadi arif dalam kehidupan kita sekarang jika kita tarik esensi kearifan mereka, ya kita pakai kearifan mereka dengan cerdas dan hati yang lembut.

Kalau kita bisa menjadi lebih tangguh dalam kehidupan kita yang penuh duka dan azab ketika kita baca dan serap kisah-kisah heroik metaforis sosok-sosok suci masa lampau, ya kisah-kisah mereka itu kita jadikan kisah-kisah dasar, foundational stories atau basic metaphors, bagi kita sebagai tempat kita berpijak dan berjalan dengan berani dalam kehidupan kita di masa kini.

Di atas kisah-kisah dan berbagai metafora dasar kuno ini, kita menulis dan membangun sendiri kisah-kisah dan metafora-metafora diri kita sendiri, yang tak pernah habis, bahkan ketika kita sudah tiada. Kok? Ya, karena, sejauh kita telah hidup dengan akbar, orang lain (anak dan cucu atau cicit kita, misalnya) selanjutnya akan menyusun kisah-kisah dan berbagai metafora kehidupan kita dari sudut pandang mereka sementara yang tertinggal dari diri kita cuma unsur-unsur kimia carbon di alam ini.

Tapi, kalau karena mengikuti bulat-bulat cara manusia zaman dulu hidup dan pola pikiran dan pandangan dunia mereka, metafora mereka, kita malah jadi bodoh, jadi tidak bisa hidup arif, jadi tidak bisa berguna, jadi tidak membangun, jadi tidak bisa merasakan dan memberi kebahagiaan di zaman kita di tempat kita, ya kita TIDAK PERLU mengikuti mereka. 

Catat ini: kalau kita sudah tahu dan paham bahwa sebuah metafora religius kuno memuat pesan-pesan yang jahat dan keji, tapi tetap kita ikuti dan laksanakan begitu saja di zaman dan dunia kita, jangan salahkan orang zaman kuno di dunia lain (karena mereka semua sudah mati), tapi salahkan diri kita sendiri yang keterlaluan dungu dan sudah mengalami kematian akal dan nurani.


Sikap yang benar adalah ini: semua metafora yang disusun moyang kita, yang tidak bermanfaat positif, yang destruktif, bagi kita di abad ke-21, ya kita remove, delete, unfriend-kan, atau unfollow, atau block, dari akal dan hati dan kehidupan kita. Akal sehat kita membimbing kita ke situ, apalagi akal ilmiah. Akal ilmiah (scientific mind) seringkali tidak atau sukar bisa dipahami akal sehat (common sense) belaka.

Aktivitas kritis dua arah itu namanya HERMENEUTIK: kita menengok masa lalu, mengkaji masa lampau, memahaminya, setelah itu menengok masa kini, mengenali masa kini. Dua kegiatan ini ilmiah, tidak serampangan, dan tidak didukung cuma oleh doa atau cuma oleh roh ilahi. Kita menggunakan ilmu pengetahuan lintasbidang untuk keduanya. Otak manusia modern itulah yang memungkinkan iptek hadir dalam dunia.

Dus, beriman itu jangan sekali-kali dipisah dari berilmu, supaya kita tidak jadi lumpuh atau jalan pincang. Ilmu pengetahuan, yang membuat kita tahu makin banyak hal, juga sebuah jalan mulia menuju Tuhan yang mahatahu tanpa batas.

Jika Tuhan mahatahu, kita juga harus melangkah maju ke depan untuk makin tahu banyak hal dalam jagat raya ini. Tuhan YMTahu tidak akan pernah takut tersaingi oleh kita jika kita, lambat atau cepat, makin banyak tahu dan terus makin banyak tahu. Semakin kita tahu banyak hal, semakin bahagia dan bangga hati Tuhan, sang Bunda Semesta. Setiap bunda atau ayah akan pilu dan merana di hati jika anak-anak mereka tetap bodoh, tidak berpengetahuan, karena tidak bisa disekolahkan.

Kalau dalam kitab-kitab suci teistik tertentu disebut bahwa manusia itu segambar dan serupa dengan Allah, sudah seharusnya frasa ini tidak dipahami secara jasmaniah. Homo sapiens segambar dan serupa dengan Allah karena memang kita memiliki kemampuan untuk dari waktu ke waktu makin banyak tahu, sampai nantinya akan betul-betul mahatahu tanpa batas akhir lewat iptek yang terus maju dan berkembang dan lewat superevolusi artifisial kecerdasan manusia.

Pemahaman saya dalam paragraf persis di atas tentu tidak bisa diterima para penulis kitab-kitab suci kuno dan para agamawan konservatif masa kini yang justru mencurigai dan berusaha mematikan dorongan ingin tahu atau kuriositas yang sudah tertanam dalam otak kita, sebagai fungsi inheren utama otak Homo sapiens. Kuriositas inilah yang menjadi faktor besar utama iptek dapat dibangun manusia tanpa akhir, lintaszaman dan lintastempat. Jika manusia seutuhnya betul ciptaan Tuhan, maka siapakah yang menanamkan kuriositas dalam otak mereka? Tentu Tuhan. Ataukah menurut anda Lucifer?

Setelah aktivitas hermeneutik kritis dua arah itu kita lakukan dengan cerdas, kita harus MEMUTUSKAN SENDIRI dengan cerdas dan arif APA YANG KITA HARUS LAKUKAN SEKARANG DI DUNIA KITA, setelah mempertimbangkan secara dialektis kritis dan realistik sejarah dunia kuno dan realitas masa kini yang semuanya multidimensional. Inilah yang saya namakan hermeneutik realis kritis.

Begitulah beragama dengan cerdas. Beragama dengan berilmu. Beragama dengan makin banyak tahu. Beragama dengan makin arif, dengan makin banyak tafakur. Dan tentu saja, beragama dengan bermartabat, bermarwah, dengan bermahatma, berjiwa besar. Jangan sekali-kali beragama dengan kerdil, degil, dekil, tengil, centil, musykil, yakni beragama bak kutil yang harus dipotong dan dibuang dari kulit.

Jika itu corak dan kualitas keberagamaan kita, ya agama-agama jadi tidak membosankan. Kita tidak akan kehilangan minat pada agama-agama.

Setua apapun usia suatu agama, tidak harus agama ini menjadi kumpulan fosil purba, sejauh kita tahu bagaimana membuka dan menyingkap dan menggali lapisan-lapisan kerak-kerak sedimen agama-agama, lalu memanfaatkan barang-barang tambang berharga yang ada di dalam sedimen-sedimen ini dengan cerdas. Barang tambang yang berharga ini kita ambil, dan sedimen-sedimen dan kerak-kerak yang membungkusnya ya kita singkirkan.

Ingatlah, di bagian dalam dua kelopak keras sebuah kerang yang tertutup, kita bisa menemukan sebuah mutiara berharga, atau tidak menemukan apa-apa, ketika kelopak-kelopaknya ini kita buka, kita seruak dan kuak. Membuka dan menguaknya harus cerdas dan cakap.

Agama-agama itu adalah cermin diri kemanusiaan kita di masa lalu dalam diri banyak insan pendahulu kita yang hidup ratusan tahun yang lalu atau sekian milenium yang telah lewat. Menengok ke masa lalu, dan dengan cerdas menarik hikmah dari masa lalu, jika memang ada hikmahnya, adalah suatu kegiatan yang menawan hati, mengasyikkan, dan membuat kita makin bijak.

Jadi, pilih ateisme, kehilangan minat pada agama? Ya, jangan pernah.

Jakarta, 07 Maret 2017

Salam,
ioanes rakhmat


Saturday, February 18, 2017

Ketika agama disamakan dengan Tuhan, apa yang akan terjadi?

Kita semua tahu, dalam pandangan para radikalis semua agama, agama mereka sangat agung, bahkan mereka menyamakan agama mereka dengan Tuhan sendiri. Apa yang akan timbul, jika suatu agama dipertuhan, di-ilahi-sasi, di-deifikasi? Mari kita cari jawabannya.

Tuhan itu dipercaya mahasempurna, mahatakterbatas, mahatahu, mahamencipta, mahasegalanya. Dus, jika Tuhan begitu, ya Tuhan tidak bisa dikritik. Sekalipun dikritik, ya tidak pernah Tuhan, setahu saya, menjawab kritikan itu. Tuhan juga, setahu saya lagi, tidak pernah dengan tangan dan akalnya sendiri menulis sebuah makalah (seperempat halaman sekalipun) untuk menanggapi dengan cerdas kritik kepadanya. Tuhan hanya diam saja. Entah kenapa. Mungkin anda tahu jawabannya.

Nah, kalau agama sudah disamakan dengan Tuhan, itulah juga yang akan terjadi: pemeluknya, khususnya para pemuka mereka yang menjalankan agama yang sempurna, jadi kebal kritik bahkan antikritik, dan lebih jauh lagi benci kritik. Sebab bagi mereka, dalam agama mereka yang sudah disetarakan dengan Tuhan, tidak ada kesalahan dan kekurangan apapun, sudah sempurna. Absolut sempurna. Bagi mereka, dari ujung dunia yang satu ke ujung yang lainnya (jika dunia memang datar, ada ujungnya), hanya orang yang sempurna yang dapat sungguh-sungguh menjadi para penganut dan penjaga agama-agama yang sempurna. Ada yang bilang, itulah delusi; tapi ada juga yang yakin, itulah hidup beriman yang paling tangguh.

Akibatnya, sosok-sosok yang berbicara mewakili agama-agama yang sudah dipertuhan, khususnya, dipercaya oleh umat masing-masing sebagai sosok-sosok ilahi. Atau sosok tigaperempat dewa dan seperempat manusia. Dus, mereka juga tidak mungkin salah dalam ucapan, kehendak, pikiran dan perbuatan. Jadi, jika sebuah agama dipertuhan, konsekwensi umumnya adalah: pemimpin tertinggi agama ini juga dipertuhan. Lebih jauh lagi, membela sosok-sosok pemimpin radikalis yang diilahikan dan membela agama-agama kalangan radikal disamakan dengan membela Tuhan.

Dua telunjuk ini tidak pernah sama!

Ketika hal itu terjadi, iman kepada Tuhan pun tidak diperlukan lagi, lenyap, sebab yang diimani bukan lagi Tuhan yang tidak kelihatan, tetapi sosok ragawi diri mereka sendiri yang sudah disetarakan dengan Tuhan. Kita tidak perlu beriman kepada hal yang kelihatan. Iman kepada Tuhan diperlukan karena Tuhan tidak kelihatan.

Jadi, para radikalis yang mengklaim diri paling beriman di seluruh jagat raya, justru adalah orang-orang yang paling tidak beriman. Para radikalis itulah infidels seasli-aslinya.

Mereka juga tidak bisa lagi melihat bahwa telunjuk Tuhan bukanlah telunjuk mereka, dan juga sebaliknya. Dua telunjuk ini tidak akan pernah sama. Yang satu insani, frail; yang lainnya ilahi, great. Runyamnya, dengan telunjuk insani mereka sendiri yang mereka yakini sama dengan telunjuk Tuhan sendiri, mereka menuding, menggempur, mencaci dan menghakimi semua orang lain di luar diri mereka. Bersikap waspada terhadap telunjuk semacam ini, tidak diperlukan mereka dan umat mereka.

Nah, ketika tahap ilahisasi atau deifikasi agama sudah masuk ke sikon seperti itu, apapun yang umat dan para pemimpin mereka katakan dan lakukan atas nama agama mereka, ya mereka yakini tidak mungkin salah, tidak mungkin tidak cocok, tidak mungkin keliru, tidak mungkin meleset. Pasti betul. Mutlak betul. Tidak mungkin ada lubang-lubang cacat dan kontaminasi. Tidak boleh ditampik. Tidak boleh dilawan.

Nah ketika sikon itu muncul, proses degeneratif terjadi: agama mulai masuk ke tahap proses penuaan, pengeroposan, pembusukan, lalu ya akhirnya akan mati.

Para radikalis agama apapun tidak bisa dan tidak mampu berpikir seperti itu. Tapi fakta menunjukkan hal itu yang sedang terjadi:

• Para radikalis dalam semua agama bertempur berat dan sengit satu sama lain untuk memperebutkan supremasi tunggal di muka Bumi, dengan hasil peradaban mereka sendiri luluh-lantak, menjadi puing, oleh mereka sendiri. Darah mengalir. Tulang dan daging berserakan. Ratapan terdengar di mana-mana. Anak-anak telanjang dan ceking, berwajah cekung. Kelaparan. Azab menjadi Tuhan pengganti.

• Mereka memusuhi iptek modern yang terus berkembang pesat ke depan, makin hebat dan menakjubkan justru karena dikritik, dievaluasi lalu dikoreksi, dan kini sedang meresapi dan mengendalikan semua bidang kehidupan, dari yang lokal personal hingga yang global sosial.

Iptek modern mereka benci dan musuhi, dan, lewat para apologet kalangan radikal, mereka serang habis-habisan (dan, tentu saja, dengan naif) karena, menurut mereka, iptek modern bertentangan dan melawan pesan-pesan teks-teks kitab-kitab suci mereka yang sudah mendalilkan ihwal asal-usul dari segala yang ada, dan sudah menggariskan ihwal bagaimana dan kemana dunia, kehidupan dan semua fenomena alam akan bergerak dan harus dipahami. Padahal, sesuai dengan sifat kemahatahuan Tuhan, ilmu pengetahuan, dan aplikasi teknisnya dalam wujud anekaragam teknologi, adalah juga jalan mulia menuju Tuhan YMTahu. Tuhan Yang Mahatahu tidak mungkin takut terhadap iptek; dus, mustahil juga Tuhan YMTahu memerangi dan ingin melenyapkan iptek modern yang terus berkembang tanpa batas, memasuki dunia kemahatahuan Tuhan tahap demi tahap, tanpa titik ujung, tanpa batas akhir.

Mereka pasti bertanya: Apakah betul, ilmu pengetahuan dikehendaki Allah ada dalam dunia dan dipakainya? Jawab saya: Sudah pasti karena minimal dua alasan.

Pertama, Tuhan memberi manusia akal budi yang membuat manusia jadi cerdas. Dengan kecerdasan pemberian Tuhan ini, manusia membangun metode-metode riset dalam usaha memahami dan mendeskripsikan segala fenomena alam dan membuat prediksi-prediksi ke depan dalam koridor pengetahuan yang sudah ada. Alhasil, ilmu pengetahuan lahir dan terus berkembang dan makin maju.

Kedua, jelas kita lihat dan jujur kita akui bahwa ilmu pengetahuan dan aplikasinya yang berupa teknologi sudah dan sedang banyak membantu manusia untuk hidup lebih maju, lebih sehat, lebih bahagia, lebih tegar, dan berhasil mengalahkan berbagai penyakit.

Iptek membuat hidup kita lebih mudah, membantu kita untuk mengatasi banyak penderitaan, melawan dan mengatasi berbagai bencana alam, menyelidiki hal-hal yang semula kita tidak pahami sehingga membuat kita paham alhasil pengetahuan kita bertambah, mencari dan mengolah sumber-sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. 

Dan, ini sangat penting, ilmu pengetahuan juga menawarkan nilai-nilai kehidupan yang agung, misalnya, makin kuat menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong orang untuk berprestasi, untuk menyelidiki segala fenomena untuk menemukan jawaban-jawaban, untuk memelihara dan mempertahankan kehidupan, dan untuk selalu bersikap jujur, ksatria, objektif dan terbuka pada fakta.

Pendek kata, jika kebahagiaan, kesejahteraan, kehidupan yang sehat, bermakna dan baik, lingkungan kehidupan yang bersih, daya tahan untuk hidup, mencintai kehidupan, dan berjiwa ksatria, adalah tujuan adanya agama-agama untuk umat manusia, maka sekarang ini tujuan-tujuan itu, bahkan tujuan-tujuan lain yang lebih jauh, sudah dicapai lewat iptek. Nah, jika demikian halnya, mengapa orang yang beragama harus menolak iptek? Mustinya, semakin dalam seseorang menghayati agamanya, semakin cinta dia pada ilmu pengetahuan. Bukankah penolakan terhadap iptek oleh orang yang beragama, dengan demikian, harus dilihat sebagai suatu kemunafikan?

• Karena menolak iptek, akibatnya adalah para radikalis semua agama makin lama makin tersingkir, lalu mendiami emper-emper bangunan peradaban modern, kekurangan makan dan minum, tidak bisa tidur lelap, kedinginan, dan rentan berbagai penyakit. Atau hidup di bantaran-bantaran sungai-sungai iptek modern yang airnya tinggi dan deras mengalir, menerjang segala penghambat. Lalu mereka hanyut dilahap terjangan air, dan jasad mereka tidak berhasil ditemukan.

• Mereka akhirnya nekad melawan modernitas yang dibangun di atas iptek modern, bahkan mereka memerangi dengan kekerasan peradaban dan kehidupan modern yang sudah sangat tangguh dan siap menghadapi gempuran nekad mereka. Mereka tidak bisa menerima penemuan teologis bahwa iptek modern adalah bagian dari dunia kemahatahuan Tuhan yang sudah dan sedang ditemukan dan disibak sedikit demi sedikit oleh para ilmuwan. Dus, para ilmuwan, entah beragama atau tidak beragama, juga adalah para pelayan Tuhan YMTahu. Pengetahuan ini menakjubkan; tapi bagi para radikalis religius dalam semua agama, itu pengetahuan yang sangat menakutkan.

• Muaranya: para radikalis makin dibenci dan dimusuhi oleh dunia yang beradab dan menolak kekerasan, lalu mereka kalah perang, atau tragisnya akhirnya membunuh diri sendiri karena mereka melihat kehidupan sekarang di muka Bumi tidak memihak mereka lagi, atau dipersepsi mereka sebagai dunia yang sedang dikuasai setan-setan, musuh Tuhan mereka. Jika tidak ada jalan lain dalam perjuangan mereka selain kematian, maka kematian dalam membela agama, dan dalam membela sosok-sosok pemimpin mereka yang diilahikan, disamakan begitu saja dengan kematian demi Tuhan.

Jadi jelas, jika agama apapun sudah disetarakan dengan Tuhan, hasilnya bukan keagungan, perdamaian, dan keabadian, tapi kemerosotan, kekerdilan, permusuhan, perang, lalu menyusul kepunahan. Ya punah bertahap, lewat proses degenerasi, proses penuaan gradual yang makin membuat tubuh renta, ringkih, keropos, tidak berdaya, akhirnya mati. Pendek kata: petaka datang!

Tuhan sudah ingatkan: Jangan kamu mempertuhankan apapun selain Tuhan.

Tuhan sudah tahu apa akibatnya pada suatu agama jika agama ini dipertuhan. Kenapa peringatan Tuhan YME ini suka sekali diabaikan dan disingkirkan justru oleh orang-orang yang mengklaim diri paling dekat dengan Tuhan?

Orang yang di dalamnya Tuhan berdiam sunyi dan tenang, malah menemukan dirinya jauh dari Tuhan. Dekat yang jauh, dan jauh yang dekat. Orang yang berkoar-koar garang bahwa mereka tahu Tuhan, justru tidak mengenal Tuhan. Orang yang terdiam luluh di bawah kaki Tuhan, justru memandang wajah Tuhan dan mengenalnya.

Selanjutnya, mari kita dengarkan the silence of sound supaya ketidaktahuan kita berakhir.


Jakarta, 18 Februari 2017

Salam, 
ioanes rakhmat

Monday, February 13, 2017

Bakteri “Superbug” MRSA akan diluncurkan ke angkasa luar, besok, 14 Feb 2017!



Bakteri akan diluncurkan ke angkasa luar?
WADUUH! 

Apa tidak akan mengontaminasi angkasa luar nantinya? Apa bakteri Superbug itu tidak akan bermutasi jadi Super-super-superbug yang jauh lebih berbahaya?

Bakteri MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus) yang sangat resisten terhadap banyak antibiotika (karena itu dinamakan “Superbug”) akan diluncurkan ke angkasa luar, persisnya akan dibawa ke International Space Station (ISS), lalu ditempatkan dalam ruang mikrogravitasi, besok 14 Feb 2017. Mikrogravitasi artinya gravitasi yang “sangat kecil”; ini beda dari gravitasi nol atau zero-G yang artinya keadaan “tanpa bobot”.


Bakteri Superbug itu akan diluncurkan oleh SpaceX Elon Musk. Rencana ini telah menimbulkan banyak reaksi, dari rasa khawatir dan ketidaktahuan hingga dukungan yang kuat.

Apa tujuan menempatkan bakteri Superbug MRSA dalam lingkungan mikrogravitasi di ISS?

Dengan berada di ruang mikrogravitasi yang tidak terdapat secara alamiah di Bumi (atau, kalaupun diciptakan, tidak akan berlangsung dalam waktu panjang), berbagai PERUBAHAN dan MUTASI pada bakteri MRSA akan berlangsung dengan LEBIH CEPAT atau TERAKSELERASI dalam siklus kehidupan Superbug ini.

Berbagai perubahan dan mutasi bakteri yang terakselerasi ini akan dengan seksama dipantau, dikaji dan dipahami oleh para saintis.

Pengetahuan dari kegiatan lab keilmuan di angkasa luar ini tentang perubahan dan mutasi yang dipercepat pada bakteri MRSA sangat penting dalam usaha MEMAHAMI BAGAIMANA bakteri MRSA (dan di masa depan, infeksi-infeksi lain) bergerak menjalar ke seluruh tubuh dan bermutasi di sepanjang kehidupannya.

Jadi, sederhananya, info biologis tentang MRSA akan mau bergerak ke mana, mau lari ke mana, mau berubah jadi apa, bagaimana proses mutasinya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan (di angkasa luar, dan juga di Bumi lewat perhitungan), akan sudah ada dalam genggaman para saintis. Kartu As sudah di tangan.

Jika siklus kehidupan, perubahan dan mutasi bakteri MRSA yang berlangsung lebih cepat sudah diketahui dan dipahami dalam suatu lingkungan mikrogravitasi jangka panjang ― sesuatu yang tidak bisa dicapai di Bumi ― maka ilmu pengobatan akan maju lebih dipercepat: bakteri yang paling resisten terhadap antibiotika, MRSA dll, akan TIDAK LAGI menjadi suatu ancaman yang mematikan bagi manusia.

Bakteri MRSA yang tergolong sebagai bakteri yang telah membunuh banyak manusia tidak akan berkutik lagi nantinya. MRSA menyerang kulit (membuat bengkak dan menimbulkan benjol-benjol merah), lalu menyerang lebih jauh ke dalam tubuh: paru-paru, tulang, sendi-sendi bahkan darah juga. Orang Amerika mati lebih banyak karena infeksi MRSA ketimbang karena infeksi HIV/AIDS, Parkinson, emfisema (pembengkakan paru-paru karena pembuluhnya kemasukan udara sehingga si penderita sulit bernafas), dan karena kekerasan.

Sungguh, ini suatu langkah besar dalam usaha para saintis untuk di masa depan yang dekat dapat melawan berbagai jenis bakteri yang paling resisten terhadap antibiotika.

Itulah ilmu pengetahuan: membawa karunia kehidupan insani yang lebih berdaya tahan.

Silakan share.

Read more https://futurism.com/elon-musks-spacex-is-launching-a-superbug-into-space.

Salam,

ioanes rakhmat
13 Feb 2017



Wednesday, February 8, 2017

Wahai Puteraku, Hidup Ini Memang duka. Jadi, Bernyanyilah!


Wahai puteraku. 

Jangan sedih. Kau segera tahu bagaimana caranya untuk tidak sedih walaupun sekarang ada cukup alasan bagimu untuk sedih.

Hidup ini memang “dukkha”, derita. Dari kecil papa sampai sekarang merasakan hidup ini memang dukkha. Kata dukkha (Indonesia: duka), dari bahasa Pali, artinya rasa pedih yang amat sangat, yang muncul ketika ujung patahan-patahan tulang dalam tubuh kita mencocok daging dan saraf di sekitarnya. Papa sekarang mau bercerita pendek dulu kepadamu.

Ketika masih sebagai seorang pangeran muda, Siddhartha Gautama (563-483 SM) dengan dikawal, keluar meninggalkan istana kerajaan. Di luar istana, di dunia real, dia melihat beberapa hal yang membuat dia menyimpulkan bahwa hidup ini memang dukkha, penderitaan, azab, suffering, pain, Elend, Pein, ellende, pijn.

Pertama, Gautama melihat seorang yang yang berpakaian compang-camping, tangan kanannya memegang sebuah belahan batok kelapa, meminta-minta pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Tubuh orang itu bau, ceking tanda kurang makan, dan kulitnya kusam tak terawat. Gautama tidak mengerti, apa yang sedang dilakukan orang itu dan kenapa orang itu kelihatan kusut dan tak terurus. Dia minta penjelasan dari seorang pengawalnya tentang apa yang sedang dilihatnya.

Pengawalnya memberitahu sang pangeran bahwa orang itu seorang pengemis, tidak punya pekerjaan yang layak sebagai sumber nafkah, tidak punya uang, tidak punya makanan, hidup terlunta-lunta setiap hari, hari ini bisa dapat sesuap nasi, besok belum tentu. Hidupnya bak seekor anjing geladak, kudisan, bau, kotor, mengais-ngais di tempat-tempat sampah mencari sisa-sisa makanan.

Tersentak Siddhartha mendengar penjelasan pengawalnya itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, apa itu mengemis, mengapa ada manusia sampai harus mengemis, kok bisa ada orang yang tidak punya makanan, dan hidup tidak terjamin. Mengapa? Mengapa? Dia yakin, si pengemis itu tentu sengsara, tidak berbahagia dan tidak terjamin hidupnya. Lalu Siddhartha mulai merenungi dirinya sendiri. Dia mulai merasa ada yang tidak beres dalam dunia ini. Tapi apa?

Ketika Siddhartha melanjutkan perjalanannya, dia melihat di pinggir jalan ada orang yang merintih, terkapar, kesakitan. Gautama untuk kedua kalinya tidak paham sama sekali. Sebelumnya dia tidak pernah melihat orang sakit dalam istana ayahnya. Dia tanya lagi pengawalnya, apa yang sedang terjadi pada orang yang terkapar itu. Sang pengawal menjawab, orang itu sedang sakit. Gautama kaget, baru dia tahu kalau manusia bisa sakit. Dia terus merenungi fakta ini.

Kemudian, ketiga, dalam perjalanan lebih lanjut, dia menemukan seorang yang ringkih, ceking, lansia, tertatih dan terbungkuk-bungkuk berjalan dengan sebuah tongkat, wajah cekung hanya berbalut kulit. Gautama heran, kenapa orang itu. Dia tanya lagi ke pengawal yang sama, apa yang sedang menimpa orang itu. Pengawalnya bilang, itu orang tua, sudah jompo, dan semua orang akhirnya akan jadi tua dan menderita. Gautama kaget lagi karena dia baru tahu orang harus akhirnya tua renta. Dia merenung dalam-dalam lagi.

Selanjutnya, keempat, Gautama dalam perjalanannya melihat iring-iringan orang ramai yang semuanya meratap sementara di tengah mereka ada sebuah keranda berisi mayat yang sedang diusung. Gautama tidak paham, apa yang sedang terjadi. Terlalu lama dia hidup dipingit dalam istana ayahnya, dijauhkan dari segala kesusahan, azab dan realitas dunia.

Pengawalnya kembali menjelaskan, orang-orang itu meratap karena telah ditinggalkan seorang kekasih mereka yang telah mati dan mayatnya ada dalam keranda itu.

Mati? Mati? Gautama kaget luar biasa. Apa itu mati? Kini dia baru tahu lagi kalau orang akhirnya harus mati, menjadi mayat, tidak bergerak lagi, tidak bernafas lagi, tidak hidup lagi. Gautama sangat terpukul. Sedih bukan kepalang. Pilu hatinya. Ada rasa takut muncul di hatinya. Dia kembali merenung dalam-dalam. Apa arti semua kejadian yang telah dilihatnya itu? Apa penyebab semua itu? Bisakah diatasi?

Empat pengalaman itu membuat Gautama resah dan gelisah di hari-hari selanjutnya. Dia mulai merasa bahwa kehidupan yang selama ini dijalaninya dalam istana bukanlah kehidupan yang real. Ada sesuatu yang sangat mengerikan di luar istana.

Di hari-hari berikutnya, Gautama mulai menyimpulkan, hidup ini yang harus dijalani dengan kesusahan dan kemiskinan, dengan tertimpa sakit-penyakit, dengan mengalami usia tua, dan akhirnya mati, adalah dukkha, penderitaan, yang nyata senyata-nyatanya.

Akhirnya Gautama memutuskan tidak mau mewarisi takhta kerajaan ayahnya. Dia bertekad bulat untuk mencari dan menemukan jalan bagaimana orang bisa lepas dari dukkha. Lalu, di usia 29 tahun, dia menjalani kehidupan beberapa aliran asketisisme, hidup menjauh dari dunia, bertapa di hutan-hutan, sempat sekian lama menyiksa diri, juga pindah-pindah dari satu aliran ke aliran lain, dari satu guru ke guru lain.

Akhirnya, bertahun-tahun kemudian setelah berguru dan kemudian membuka jalan asketis sendiri, Gautama di umur 35 tahun menemukan jalan-jalan untuk manusia bisa lepas dari dukkha. Jalan Tengah, the Middle Way, adalah metode Gautama. Tidak ekstrim menyiksa diri atau menolak dunia real. Tapi juga tak ekstrim hidup bersenang-senang saja, takluk pada dunia.

Baginya, ada Jalan Tengah. Ibaratnya, Gautama tidak mau menyetel senar kecapi terlalu kencang sehingga putus, dan juga tidak ingin terlalu kendur sehingga bersuara sember. Harus disetel pas, di tengah-tengah: tidak kekencangan dan juga tidak kendur. Fine tuning.

Menurut legenda, Gautama menemukan Jalan Tengah dan akar penyebab dukkha setelah dia bermeditasi selama 49 hari di bawah sebuah pohon besar dan rimbun di suatu tempat di kawasan Buddhagaya. Inilah pencerahan atau penerangan budi yang paripurna. Karena itulah pohon besar itu diberi nama Pohon Bodhi, artinya Pohon Pencerahan.

Sehabis menemukan jawaban yang menurutnya adalah jalan melepaskan diri dari dukkha, Siddhartha bangkit dan berdiri di depan pohon itu, menatapnya tanpa berkedip dan tanpa bergerak selama 7 hari 7 malam sebagai tanda terima kasih yang besar kepada sang pohon. Siddhartha pun mengalami transformasi dari status sang pencari, masuk ke status Sang Tercerahkan, Sang Buddha.

Satu prinsip paling mendasar dalam agama Buddha dalam mengalahkan penderitaan adalah BERSIKAP BENAR terhadap dunia dan terhadap penderitaan.

Wahai puteraku. Apapun yang ada dalam dunia ini boleh kau miliki dengan cara yang benar, asalkan jangan yang kau miliki itu mengikat dirimu atau kamu mengikatkan dirimu kepada milikmu itu. Kamu tidak boleh dihanyutkan arus dari hulu dan juga arus dari hilir. Kamu harus berada di tengahnya, di pusaran air tanpa tersedot masuk dan tenggelam. Kamu harus jadi sang tuan, sang master, atas semua harta benda yang kau peroleh dengan cara yang benar. Tak boleh kebalikannya.

Kalaupun engkau tidak punya uang, hidup miskin, jangan juga kemiskinan dan kesusahanmu menjadi tuan atas dirimu, mengendalikanmu, akhirnya membinasakanmu.

Baik saat kamu punya banyak harta, maupun saat kamu melarat, satu hal harus kamu pegang: jangan sekali-kali kekayaanmu, atau kemiskinanmu, mengendalikan dirimu, menyetir dirimu, merebut dirimu, yang akan menimbulkan masalah-masalah berantai yang akan membuat dirimu jatuh ke dalam penderitaan.

Penderitaan memang tidak bisa ditiadakan sampai ke akar-akarnya. Satu dukkha lenyap, dukkha yang lain akan pasti mendatangi. Penderitaan boleh tetap ada, tapi jangan biarkan penderitaan mengendalikanmu atau menghancurkanmu. Kamulah yang harus mengendalikan dan mengelola penderitaan lewat SIKAP YANG BENAR terhadap penderitaan.

Ringkas kata, apapun yang ada dalam dunia ini yang kamu miliki, atau yang tidak kamu miliki dan karenanya kamu dambakan, dan apapun yang kamu alami dalam dunia ini, suka atau duka, sukses atau gagal, JANGAN KAU BIARKAN DIRIMU MELEKAT atau TERSANDERA OLEH SEMUA ITU. Inilah prinsip yang dalam bahasa Pali dinamakan NEKKHAMMA, terjemahan Inggrisnya “detachment” atau “non-attachment”. Terjemahan Indonesia: keberjarakan, ketidaklekatan, kondisi tidak dikuasai, kondisi terpisah-tapi-bersama.


Belajarlah kearifan dari bunga teratai!

Lihatlah dunia sekitarmu. Nekkhamma itu diperlihatkan dengan jelas oleh setangkai bunga teratai dan daun-daunnya yang hijau mekar dan terhampar di atas air yang kotor atau air yang berlumpur hitam. Lapisan semacam minyak pada seluruh permukaan helai-helai daun dan helai-helai bunga teratai membuat bunga teratai ini tidak ikut ternoda atau tercemar oleh air yang kotor atau lumpur yang hitam. Berada di air keruh, dengan akar masuk ke dalam air yang kotor, tidak membuat setangkai teratai ikut kotor. Bunga teratai tidak lekat pada air meskipun ada di air. Ada jarak. Ada kemerdekaan. Ada pemisah. Ada ketidaklekatan.

Dengan menjalankan prinsip NEKKHAMMA―lewat latihan dan membiasakan diri terus-menerus TIDAK LEKAT, MENGAMBIL JARAK, TIDAK DIKUASAI, terhadap dan oleh apapun yang kita miliki atau yang kita tidak miliki atau yang sedang kita alami―kita akan makin bisa hidup dengan merdeka, terlepas dari rasa sakit dan pedih, dari azab dan sengsara, dari tipudaya dunia, dari rasa kehilangan, dari rasa kekurangan, dan dari rasa kelebihan. Lalu kita masuk ke dalam kehidupan yang tenang, kalem, simpel, bersahaja, cukup, puas, damai, sejuk, teduh, riang, dan memberi kebahagiaan, naungan, perteduhan dan ketenteraman bagi sesama manusia dan makhluk-makhluk lain.

Dunia tidak bisa engkau jauhi sebab engkau ada di dalam dunia. Dunia boleh ada seperti biasa, yakni campuran suka dan duka, kekerasan dan kelembutan, sakit dan sehat, kuat dan lemah, kaya dan miskin, mati dan hidup, perang dan damai, tawa dan tangis, sukses dan gagal, memiliki dan tidak memiliki, berpakaian dan telanjang, kenyang dan lapar, terang dan gelap, sesak dan lapang, pahit dan manis.

Tetapi dengan NEKKHAMMA, kita tidak dikendalikan semua itu. Bukan hal-hal itu yang menjadi sang master atas diri kita. Tetapi sebaliknya: kitalah sang master yang tak terkalahkan atas semua kondisi itu, lewat sikap merdeka kita, lewat ketidaklekatan kita, lewat keberjarakan kita, lewat kemandirian kita, lewat keterpisahan kita.

Jika setiap orang sukses melaksanakan NEKKHAMMA, maka kehidupan dunia, kehidupan perorangan, dan kehidupan masyarakat, akan berubah menjadi kehidupan yang berdayatahan, yang menenteramkan.

Di dalamnya orang hidup tidak rakus, tidak korup, tidak serakah, tidak panik, tidak bejad, tidak egois, tidak culas, tidak dengki, tidak haus segala hal dan segala benda, tidak gila kekuasaan, tidak dikalahkan nafsu berahi, tapi agung dalam pikiran, kehendak, ucapan dan tindakan. Satu sama lain peduli. Saling menguatkan, saling menyembuhkan, saling membebaskan dari segala belenggu matarantai dukkha, sakit, kesepian, hawa nafsu, niat jahat, mati dan kelahiran, dan kesia-siaan.

Begitulah petunjukku bagimu, puteraku. Telunjukku terarah ke sang rembulan saja. Kamulah yang perlu sampai di sana. Dekat saja jaraknya jika engkau memahami semua ucapan papamu di atas.

Wahai puteraku
Hidup ini memang duka 
Jadi, bernyanyilah!

My son
Life is indeed suffering
Therefore, sing cheerfully!

Semoga semua makhluk berbahagia.

Jakarta, 08 Feb 2017
ioanes rakhmat

Wednesday, February 1, 2017

Tanpa teknologi, kita semua akan (cepat) mati! Cobalah!

Teknologi itu applikasi teknik dari sains. Menolak dan membenci sains, atau menyusun sains gadungan (pseudoscience) atau sains politik rongsokan (junk science), hanya akan membuat kita cepat mati, peradaban menurun lalu punah dan kiamat datang.

Teknologi, mulai dari zaman manusia purba hingga kini, yang sederhana sekalipun, tidak bisa manusia lepaskan!

Gerakan yang menamakan diri “back-to-nature movement” tidak pernah berhasil, walaupun dipropagandakan besar-besaran bahwa mereka berhasil, tapi sayangnya tidak pernah disertai bukti-bukti ilmiah yang solid.

Ada kalangan yang mempropagandakan bahwa produk-produk pertanian dan peternakan yang sepenuhnya alamiah, yang tidak memakai cairan pemberantas hama, atau yang tidak lewat rekayasa genetik, dijamin keamanannya. Sementara, kata mereka, produk-produk makanan atau santapan apapun yang memakai insektisida dan diintervensi teknologi buatan manusia sangat berbahaya. Tetapi berbagai propaganda tentang bahaya GMF/GMO atau GEF/GEO (Genetically Modified or Engineered Foods or Organisms) ini telah banyak dibantah dan dipatahkan lewat argumen-argumen dan bukti-bukti ilmiah seperti dibentangkan misalnya di sini.

Ini sebetul-betulnya propaganda!

Tubuh kita khususnya memiliki bentuk, anatomi, jejaring fisiologis dan komposisi biologis yang harus memerlukan teknologi untuk bisa hidup lama atau bertahan ketika diserang berbagai penyakit dan kejadian buruk.

Ada teknologi yang sangat sederhana, sederhana, maju, sangat maju, dan luar biasa maju sehingga kita terpana ketika melihatnya bak terkena sihir.

Manusia purba, misalnya, membuat dan memakai sendiri teknologi sangat sederhana ketika mereka menempa dengan batu-batu tajam sebuah balok batu untuk mereka jadikan gada atau martil alamiah atau mata lembing.

Paku modern juga sebuah produk teknologi yang dihasilkan dari mesin-mesin berat di pabrik. Begitu juga, martil besi bertangkai itu sebuah bentuk teknologi yang sederhana tapi untuk memproduksinya dibutuhkan teknologi yang lebih tinggi. Tambang yang anda pakai atau jepitan jemuran yang terbuat dari kayu juga barang-barang teknologis. Jangan dikata, betapa rumit dan canggihnya sains-tek yang dibutuhkan untuk menghasilkan mesin CT-Scan atau mesin MRI, apalagi untuk mesin sains terbesar dan terumit di dunia sekarang ini, Large Hadron Collider.

Tentu anda sudah (atau perlu) tahu bahwa hewan-hewan non-manusiapun, mulai dari semut, aneka burung, berang-berang hingga gajah, dll, juga secara naluriah membuat sendiri barang-barang yang membuat mereka bisa hidup terlindungi atau terbantu dalam kegiatan mereka sehari-hari. Jika hewan-hewan non-manusia memerlukan banyak peralatan yang mereka buat sendiri untuk hidup, begitu juga manusia yang berakal.

Kita jadi paham, pantaslah jika pseudosains dan sains rongsokan suka sekali disebarkan oleh kalangan agamawan yang tidak cinta planet Bumi, sains-tek, dan pembangunan peradaban, pendek kata: kehidupan di Bumi. Mereka ingin segera masuk ke “alam lain” yang tidak butuh raga, kebudayaan, sains-tek, peradaban dan planet Bumi.

Saya sih gak tertarik dengan alam lain itu. Saya mencintai Bumi dan jagat raya yang real.

Surga ya saat kita hidup sehat, umur panjang, hati dan pikiran kita damai, tidak kekurangan kebutuhan untuk hidup, cerdas dan maju, lahan sawah dan ladang subur, industri ramah lingkungan makin maju, udara bersih, energi terbarukan berlimpah, dunia damai.

Neraka ya saat kita kelaparan, miskin, terlantar, penyakitan, dirajam oleh perang, mati mengenaskan, hidup dalam lingkaran setan kekumuhan dan kekotoran lingkungan dan air, serba kekurangan, tidak sekolah alhasil tetap bodoh, hati dan pikiran hanya berisi kejahatan dan keculasan, dan dunia mengalami krisis atau kehabisan energi.

Tapi kalau ada realitas lain yang lebih REAL dan FAKTUAL dibandingkan yang saya sudah gambarkan singkat di atas SETELAH SAYA MATI, yang disebut SORGA, ya saya tentu mau juga hidup di sana untuk mengembangkan lagi sains-tek supaya kondisi kehidupan di sana MAKIN BAIK.

Kalau di sana saya akan menganggur, tidak bisa membaca, berpikir dan menulis, tidak bisa mengajar dan mendidik, tidak bisa mendampingi anak-anak, tapi hanya bernyanyi atau bersenang-senang dan plesiran saja abadi, tidak berprestasi apa-apa lagi di dunia sains-tek, dan tidak perlu lagi menebar ilmu, cinta kasih dan kebajikan, ya saya tidak memerlukannya sekalipun dijamin akan pasti masuk karena saya bla bla bla bla.

Dus, saya mencukupkan diri untuk hidup sebaik-baiknya di planet Bumi sekali saja. Saya tidak serakah kehidupan. Untuk cicit-cicit saya dan anda nanti, ya cukup hidup sekali saja dengan bernilai misalnya di planet Mars atau di bulan Titan.

Ada sebuah artikel bagus yang melengkapi uraian saya di atas tentang kemutlakan teknologi bagi kehidupan kita. Bacalah di sini.

Silakan share.

Salam,

ioanes rakhmat

01 Feb 2017